UWKS Berpartisipasi dalam Konferensi Sungai Indonesia 2026 di Mojokerto

Mojokerto – Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) berpartisipasi dalam Konferensi Sungai Indonesia 2026 yang diselenggarakan di kawasan wisata Sumber Gempong, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Kegiatan berlangsung selama tiga hari, Sabtu–Senin, 25–27 Juli 2026, dan menjadi bagian dari peringatan Hari Sungai Nasional yang diperingati setiap 27 Juli.

UWKS diwakili oleh Ketua Pusat Studi Lingkungan (PSL) LPPM UWKS, Dr. Ir. Soebagio, M.T. Keikutsertaan tersebut menunjukkan komitmen UWKS dalam mendukung pelestarian lingkungan serta memperkuat peran perguruan tinggi dalam pengelolaan dan pemulihan ekosistem sungai.

Konferensi ini mengusung semangat “Tobat Ekologis Nasional” dengan tiga fokus utama, yaitu ekonomi ekologi, penguatan kelembagaan, dan peningkatan kapasitas. Melalui tema tersebut, sungai tidak hanya dipandang sebagai sumber daya alam, tetapi juga sebagai bagian penting dari kehidupan, kebudayaan, dan peradaban masyarakat.

Kegiatan ini mempertemukan komunitas dan penggiat sungaidari berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, konferensi melibatkan narasumber yang kompeten, kementerian, BUMN, perusahaan nasional, serta sejumlah pihak yang memiliki perhatian terhadap pelestarian lingkungan. Keterlibatan berbagai unsur tersebut diperlukan karena persoalan sungai tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja.

Beberapa persoalan yang menjadi perhatian dalam konferensi adalah pencemaran sungai akibat limbah domestik dan industri serta penggunaan kawasan sempadan sungai yang seharusnya berfungsi sebagai area konservasi. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, komunitas lingkungan, dan dunia usaha untuk mengembalikan fungsi sungai secara berkelanjutan.

Pemilihan Sumber Gempong sebagai lokasi kegiatan juga memiliki makna tersendiri. Kawasan ini merupakan sumber mata air yang dikelola dengan melibatkan masyarakat dan lembaga setempat. Pengelolaan yang baik menunjukkan bahwa pelestarian mata air dapat berjalan berdampingan dengan pengembangan pariwisata dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Selama tiga hari pelaksanaan, peserta mengikuti diskusi, berbagi pengalaman, serta mempelajari berbagai praktik pengelolaan sungai dan sampah berbasis komunitas. Forum ini juga menjadiruang untuk memperkuat jejaring antar penggiat sungai dan mengembangkan kegiatan edukasi lingkungan yang dapat diterapkan di daerah masing-masing.

Salah satu agenda penting dalam rangkaian konferensi adalah pembentukan dan peresmian organisasi nasional penggiat sungai beserta keanggotaannya. Organisasi tersebut diharapkan menjadi wadah bersama untuk memperkuat koordinasi dan gerakan pelestarian sungai di tingkat nasional.

Hasil konferensi selanjutnya dirumuskan dalam bentukrekomendasi yang akan disampaikan kepada Kementerian Lingkungan Hidup. Rekomendasi tersebut diharapkan dapatmendukung penyusunan kebijakan serta memperkuatketerlibatan komunitas dalam menjaga, memulihkan, dan melestarikan sungai di Indonesia.

Melalui partisipasi dalam Konferensi Sungai Indonesia 2026, UWKS diharapkan dapat memperluas jejaring kerja samasekaligus berkontribusi melalui penelitian, pengabdian kepadamasyarakat, dan edukasi lingkungan. Kehadiran Pusat Studi Lingkungan LPPM UWKS juga menjadi langkah penting dalammendorong lahirnya program kolaboratif yang memberikandampak nyata bagi kelestarian sungai dan kesejahteraanmasyarakat.