SURABAYA, Dalam upaya mengantisipasi potensi banjir sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai pengelolaan sampah mandiri, Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Program Studi Teknik Sipil Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) menyelenggarakan kegiatan penyuluhan pembuatan Lubang Resapan Biopori (LRB) di wilayah RW 5 Kelurahan Morokrembangan, Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya.
Kegiatan edukasi dan sosialisasi ini dipimpin oleh tim akademisi yang terdiri dari Dr. Ir. Soebagio, M.T., Dr. Ir. Utari Khatulistiani, M.T., Akbar Bayu Kresno S., S.T., M.T., Dr. Johan Pahing Heru W., S.T., M.T., Dr. Ir. Soerjandani Priantoro M., M.T., dan Danang Setiya Raharja, S.T., M.T.


Solusi Ramah Lingkungan untuk Masalah Perkotaan
Masalah banjir genangan dan penumpukan sampah organik masih menjadi tantangan utama di kawasan padat penduduk perkotaan. Melalui penyuluhan ini, tim dosen Teknik Sipil UWKS mengenalkan teknologi Biopori sebagai solusi praktis, hemat biaya, dan ramah lingkungan.
Secara teknis, biopori adalah lubang resapan silindris yang dibuat vertikal ke dalam tanah dengan kedalaman 80–100 cm dan diameter 10–30 cm. Lubang ini memanfaatkan aktivitas fauna tanah dan akar tanaman yang dipicu oleh sampah organik untuk membentuk pore-pore alami.
Penelitian menunjukkan bahwa keberadaan biopori mampu meningkatkan laju infiltrasi air ke dalam tanah hingga 25–30 persen. Dengan satu lubang biopori berukuran standar, volume air hujan yang dapat diserap langsung ke tanah mencapai sekitar 7,85 liter, sehingga secara signifikan mengurangi volume limpasan air di permukaan jalan maupun pemukiman.
Mengubah Sampah Menjadi Kompos
Selain efektif mencegah banjir, teknologi biopori juga berfungsi sebagai wadah pengomposan alami. Warga diajarkan untuk memanfaatkan sisa sisa sampah dapur, daun kering, dan limbah organik rumah tangga lainnya untuk diisikan ke dalam pipa PVC berlubang yang ditanam di dalam tanah. Dalam kurun waktu 2 hingga 3 bulan, sampah organik tersebut akan terurai sempurna dan siap dipanen menjadi pupuk kompos berkualitas tinggi.
Terinspirasi dari Keberhasilan Kampung Hijau Glintung
Dalam penyuluhan tersebut, tim peneliti juga memaparkan studi kasus keberhasilan Kampung Hijau Glintung di Malang yang sukses menekan angka genangan air hingga 80 persen serta menaikkan permukaan air sumur warga melalui gerakan pembuatan biopori secara masif.
Melalui program pengabdian masyarakat ini, warga RW 5 Kelurahan Morokrembangan diharapkan dapat menerapkan pembuatan biopori secara mandiri dan berkelanjutan di lingkungan tempat tinggal masing-masing, guna menciptakan lingkungan yang bebas banjir, asri, dan peduli lingkungan.